Ada satu fakta menarik yang tertinggal dari obrolan maraton riset saya belakangan ini tentang adopsi Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) di industri game tanah air. Tepat pada 4 Juni 2026 kemarin, saya sempat melakukan wawancara mendalam dengan Mas Bagaskara Firdaus, Co-Founder dari Berangin Creative. Dari diskusi panjang itu, ada satu stancesuper tegas yang membuat studio ini tampil beda: mereka menerapkan aturan yang sangat strict untuk tidak pernah menggunakan AI dalam produk akhir yang dilempar ke pasar. Zero AI in the final asset. Sebuah prinsip yang menurut saya sebagai peneliti sangat berani sekaligus esensial di tengah euforia digitalisasi saat ini.
Langkah berani Berangin Creative ini seolah menjadi pelengkap dari potongan teka-teki riset yang saya kumpulkan sebelumnya. Kalau ditarik mundur, komitmen menjaga orisinalitas ini senada dengan obrolan saya bersama Mas Galih di Strayflux Studio pada 25 Mei 2026 lalu, yang mati-matian mempertahankan ruh hand-drawn art mereka dari kontaminasi AI generatif. Bedanya, Berangin Creative memformulasikan batasan ini secara hitam-putih dalam workflow pipelinemereka. AI hanya boleh menyentuh ranah behind the scene—seperti memancing ide awal, menstrukturkan dokumen narasi, atau sekadar membuat draf kasar. Begitu masuk ke proses finishing atau aset final yang dinikmati player, semuanya wajib murni buatan tangan dan pemikiran manusia.
Sebagai akademisi yang suka melihat sesuatu secara kritis, saya melihat kebijakan no-AI in final product ini bukan sekadar idealisme romantis, melainkan strategi bertahan hidup (survival strategy) yang sangat rasional secara hukum dan komersial. Di era borderless innovation sekarang, banyak developer terjebak memakai tools AI komersial secara ugal-ugalan tanpa tahu bahwa data training di balik AI tersebut sering kali menabrak hak cipta seniman lain. Mas Bagas paham betul risiko ini. Dengan membersihkan produk akhir dari elemen AI, Berangin Creative otomatis menyelamatkan proyek mereka dari potensi sengketa hukum di masa depan sekaligus memberikan jaminan kualitas (quality assurance) yang otentik kepada para pemain.
Prinsip kokoh Berangin Creative ini juga memberikan perspektif baru yang menenangkan jika dibandingkan dengan kecemasan industri yang sempat saya diskusikan dengan Mas Teguh dari Team Conviction Lab baru-baru ini. Di saat banyak studio mulai memangkas rekrutmen karena merasa satu orang yang memegang AI bisa menggantikan posisi tiga programmer atau desainer konvensional, Berangin Creative justru menjadi ruang aman bagi talenta lokal untuk berkembang. Mereka sadar bahwa foundational knowledge—pemahaman dasar soal anatomi, logika coding, dan estetika seni—tidak akan pernah bisa di-bypass oleh teknologi secanggih apa pun.
Jika kita refleksikan lagi ke belakang, perdebatan batasan etis ini membawa ingatan saya pada momen evaluasi draf Indonesia Game Rating System (IGRS) di Garuda Spark tanggal 5 Mei 2026 kemarin. Saat itu kita sibuk merumuskan “pagar” regulasi industri game nasional. Nah, kompas etika yang dipraktikkan oleh Berangin Creative inilah contoh nyata bagaimana industri bisa memagarinya sendiri tanpa harus menunggu ketukan palu birokrasi. Mereka membuktikan bahwa produktivitas dan kepatuhan hukum bisa berjalan beriringan tanpa harus mengorbankan hak-hak para kreator manusia.
Dari kunjungan lapangan kali ini, saya pulang membawa sebuah kesimpulan penting. Berangin Creative sukses mendefinisikan ulang apa itu “pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab.” Mereka tidak menutup mata dari efisiensi yang ditawarkan oleh Gen-AI, tetapi mereka tahu persis di mana harus menarik garis batas yang tegas. AI boleh digunakan sebagai mesin pembantu di dapur pra-produksi, tapi urusan rasa, estetika akhir, dan sentuhan humanis di produk akhir tetap menjadi hak mutlak seniman manusia. Because in the end, authenticity is the highest currency in the creative industry!


Leave a Reply