Membedah Strategi Arsanesia Menembus Pasar Global bareng Mas Adam Ardisasmita

Siapa sih yang nggak pengen game lokal kita nangkring di etalase global? Kemarin, rangkaian maraton riset saya tentang adopsi Artificial Intelligence (AI) dan dinamika industri kreatif membawa saya ke sebuah obrolan yang mencerahkan bareng Mas Adam Ardisasmita, CEO sekaligus co-founder Arsanesia. Menariknya, wawancara ini merupakan bagian dari rangkaian fieldwork panjang yang polanya terus berulang. Ingat kan, waktu saya mempresentasikan desain riset kolaborasi ini di BRIN pada 15 April 2026 lalu? Di sana kita sepakat untuk memetakan dampak sosial-ekonomi AI di pipeline game lokal. Nah, obrolan dengan Arsanesia ini menjadi potongan puzzle ke-6 yang sangat krusial.

Sebagai peneliti, saya selalu mencoba melihat sebuah ekosistem secara utuh, bukan cuma dari kulit luarnya. Mas Adam, yang sudah running Arsanesia sejak 2011, punya privilege perspektif yang matang banget soal bagaimana industri ini berevolusi. Ketika studio-studio indie lain mungkin masih meraba-raba cara bertahan, Arsanesia sudah melangkah lebih jauh dengan menyusun strategi pengumpulan data dan validasi kuantitatif untuk melihat peta industri yang lebih makro. Mereka nggak cuma bikin game demi kepuasan artistik idealis, tapi beneran memikirkan bagaimana validasi pasar itu bekerja di lapangan.

Shifting menarik yang saya tangkap dari diskusi ini adalah bagaimana industri game kita pelan-pelan mulai bergeser ke arah penguatan struktur internal. Kalau beberapa waktu lalu—tepatnya saat saya mengobrol dengan Mas Teguh dari Team Conviction—kita melihat realita brutal bagaimana AI mulai mereduksi peran programmer konvensional demi produktivitas, di Arsanesia pendekatannya terasa lebih sistematis. Mereka sadar betul kalau pemanfaatan teknologi baru nggak bisa dilepaskan dari kesiapan talenta itu sendiri. Makanya, instrumen seperti kuesioner disiapkan secara matang sebelum melakukan pergerakan besar di pasar.

Satu hal yang sempat bikin saya critical sebagai akademisi adalah soal regulasi dan ekosistem pendukung. Kita sering banget menuntut pengembang lokal untuk langsung bersaing secara global, tapi urusan mendasar seperti regulasi perlindungan atau kepastian hukum kadang masih abu-abu. Ini senada dengan draf evaluasi Indonesia Game Rating System (IGRS) yang sempat kita diskusikan di Garuda Spark pada 5 Mei 2026 kemarin, di mana kita menekankan pentingnya “pagar” industri yang jelas tanpa mematikan ruang gerak kreator lokal. Arsanesia tampaknya paham betul peta konflik ini, sehingga dalam perancangan strategi bisnis ke depan, aspek-aspek regulasi makro tetap masuk dalam radar kalkulasi mereka.

The ultimate takeaway dari obrolan hari itu: menembus pasar global bukan sekadar soal seberapa canggih coding atau seberapa estetik visual game yang dibuat. Ini adalah soal orkestrasi tim, pengumpulan data yang valid, dan kesiapan menghadapi dinamika pasar yang super cepat. Riset maraton ini masih panjang, dan tim kami masih harus nge-blast kuesioner ke beberapa kota basis developer seperti Jabodetabek, Malang, hingga Kepulauan Riau untuk memvalidasi temuan ini. Tapi satu hal yang pasti, fondasi yang diletakkan oleh para pionir seperti Arsanesia membuktikan bahwa industri game Indonesia punya masa depan yang berdaulat, asal kita mau berhenti jualan “gimmick” teknologi langit dan mulai beresin riset fundamental di lapangan!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *