Ada momen dalam riset lapangan yang bikin saya sebagai peneliti terdiam agak lama, dan itu terjadi baru-baru ini saat mengobrol mendalam dengan Mas Teguh dari Team Conviction Lab. Kami mendiskusikan sesuatu yang selama ini sering jadi gajah di dalam ruangan (elephant in the room): bagaimana adopsi Artificial Intelligence (AI) secara nyata mengubah peta rekrutmen talenta dan, secara ekstrem, mulai memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia di industri teknologi kita.
Mas Teguh menceritakan sebuah shifting yang cukup radikal di timnya. Sejak mereka memutuskan untuk fully utilize AI dalam alur kerja, kriteria orang yang dicari berubah total. Sekarang, mereka hanya mencari orang yang sudah fasih menggunakan AI. Imbas langsungnya? Jumlah orang yang mereka rekrut menyusut drastis. Ketika terjadi breakthroughteknologi tahun lalu, penggunaan AI diakui membuat hari-hari kerja terasa sangat produktif karena masalah teknis bisa diselesaikan jauh lebih cepat. Namun, ada kalimat sentilan dari temannya, Arief, yang sangat menohok: di balik perasaan produktif itu, sebenarnya kita sedang menyapu bersih lapangan pekerjaan bagi sebagian programmer.
Realita ini terasa sangat kontras tapi nyata. Kalau kita tarik benang merahnya ke belakang, polanya mirip dengan kekhawatiran yang muncul saat diskusi draf Indonesia Game Rating System (IGRS) di Garuda Spark pada 5 Mei 2026 lalu. Waktu itu, ekosistem industri kreatif sepakat bahwa teknologi jangan sampai dipakai cuma buat memotong kompensasi atau menggusur pekerja lokal demi kompetisi global yang murah. Namun di level praktis—seperti yang diakui Mas Teguh—perusahaan sering kali tidak punya pilihan. Kalau tidak memanfaatkan AI, mereka bakal kalah saing dengan kompetitor yang bergerak lebih gesit. It’s a brutal reality of survival of the fittest.
Sebagai peneliti, saya melihat dilema ini bukan lagi sekadar soal “efisiensi proses”. Ini masalah struktural. Ketika satu talenta yang pegang AI bisa menggantikan peran tiga hingga empat programmer konvensional, ke mana perginya para lulusan baru (fresh graduates) kita? Hal ini sempat membayangi pikiran saya, mirip dengan catatan wawancara bersama Mas Ardhan dari Separuh Interactive pada 22 Juni 2026 kemarin, di mana kita menekankan bahwa foundational knowledge harus tetap kuat dan teknologi hanyalah sebuah booster. Bedanya, di level industri yang dikejar timeline ketat, fungsi booster ini pelan-pelan bermutasi menjadi pengganti penuh.
Menutup obrolan hari itu, saya menyadari satu hal: transformasi digital ini berjalan tanpa rem, dan korbannya kali ini adalah mereka yang telat beradaptasi di industri digital itu sendiri. Suka atau tidak, pengurangan lapangan kerja untuk peran-peran repetitif adalah harga mahal yang harus dibayar demi sebuah kata bernama “produktivitas”. Tantangan besar bagi kita sekarang—baik regulator maupun akademisi—bukan lagi menahan laju AI, melainkan bagaimana mendesain ulang kurikulum talenta kita agar mereka tidak kalah cepat sebelum sempat masuk ke medan pertempuran industri.


Leave a Reply