Pernah terpikir nggak sih, bagaimana rasanya mencoba memasang teknologi canggih di tempat yang listriknya saja masih sering ngadat? Minggu lalu, tepatnya tanggal 17-20 Juni 2025, saya berkesempatan “turun gunung” ke Cirebon dan Indramayu untuk melihat langsung bagaimana para pembudidaya udang dan lele berinteraksi dengan inovasi digital. Jujur, setelah sebelumnya saya melihat optimisme di Jogja dan Bantul (14-17 Juli 2025), perjalanan ke Pantura ini terasa seperti sebuah reality check yang cukup menohok.









Di Cirebon pada 17 Juni 2025, obrolan dengan dinas setempat langsung membuka mata saya soal masalah klasik: biaya. Bayangkan, ada alat pemantau kualitas air yang harganya mencapai 27 juta per unit. Memang hasilnya efektif dan sempat didampingi sampai panen, tapi bagi pembudidaya kecil, angka itu terasa seperti mimpi di siang bolong. Belum lagi masalah komunikasi antara penyedia teknologi dan dinas yang kurang harmonis, membuat adopsi teknologi jadi setengah hati.
Masuk ke wilayah Indramayu (18-20 Juni 2025), tantangannya makin nyata, terutama soal infrastruktur dasar. Salah satu penambak udang bercerita kalau di daerahnya sering terjadi pemadaman listrik. Masalahnya serius: kalau listrik mati lebih dari 3 jam, udang bisa mati massal dan mereka terpaksa panen dini dengan harga jatuh hingga 50%. Dalam kondisi “bertaruh nyawa” seperti ini, bicara soal AI atau IoT rasanya masih kejauhan kalau urusan daya saja belum stabil.
Saya juga bertemu dengan pembudidaya lele yang punya pandangan cukup kritis. Ada yang menganggap teknologi itu cuma cost center alias beban tambahan karena biayanya dianggap mahal tapi hasil panennya nggak beda jauh dengan cara tradisional. Ada juga pengalaman kurang enak dari mereka yang sempat pakai puluhan unit autofeeder sejak program tahun 2018, tapi akhirnya berhenti karena kendala teknis dan ribetnya update aplikasi. Mereka bukan nggak mau maju, tapi mereka butuh solusi yang praktis, bukan yang makin bikin pusing.
Sebagai peneliti, saya melihat ada pola yang berulang: para petambak akan mau mencoba kalau ada bantuan modal atau pinjaman pakan di awal. Apalagi buat mereka yang lahan kolamnya rusak kena banjir rob, prioritas utamanya tentu memperbaiki tanggul dulu, baru mikir teknologi. Ini senada dengan kritik yang saya sampaikan di FGD Online bulan Agustus lalu, bahwa kebijakan digitalisasi nggak boleh cuma “jualan alat”, tapi harus sepaket dengan perbaikan lingkungan dan skema finansial yang masuk akal.
Pelajaran penting dari Pantura adalah digitalisasi itu bukan cuma soal memindahkan kendali ke smartphone. Kita nggak bisa paksa mereka pakai sensor canggih kalau buat nyalain kincir air saja listriknya masih byar-pet. Pendekatan kita harus lebih membumi—benahi dulu infrastruktur dasar, stabilkan harga pakan, dan berikan pendampingan yang beneran ada saat alat mereka macet. Teknologi harusnya jadi solusi, bukan malah jadi beban baru di tengah kerasnya hidup di pesisir.


Leave a Reply