Bandung-Subang Tales: Mencari “Jiwa Digital” di Kolam Air Deras

Halo kawan-kawan! Back again with me. Setelah sebelumnya kita sempat deep talk soal potensi Tilapia bareng ATI (12 Juni 2025) dan berandai-andai soal masa depan AI & Blockchain bareng tim BRAIN IPB (11 Juni 2025), kali ini saya baru saja menyelesaikan maraton fieldwork yang cukup intens di Bandung dan Subang pada 30 Juni hingga 3 Juli 2025. Perjalanan ini beneran jadi reality check yang menarik karena mempertemukan teori-teori “langit” dari kampus dengan realita “lumpur” di kolam-kolam air deras Subang.

Perjalanan saya mulai di Jatinangor (30 Juni 2025) bareng Dr. Ine Maulina dari FPIK UNPAD. Di sini, kami membedah gap besar antara riset laboratorium dan aplikasi lapangan. Isu yang muncul klasik tapi ngena: banyak teknologi hasil riset yang terlalu high-maintenance dan nggak sesuai konteks lokal. Sebagai peneliti, saya melihat ada masalah “penerjemahan” di sini. Kita butuh “penengah” yang bisa mengubah bahasa riset yang rumit jadi solusi praktis buat pembudidaya.

Geser ke Subang (1 Juli 2025), saya ngobrol panjang dengan Dinas Perikanan dan para penyuluh. Di sana, tantangan adopsi teknologi ternyata bukan cuma soal alat, tapi soal “perut” dan kepercayaan. Pembudidaya kita itu sangat rasional; mereka nggak bakal pakai alat kalau nggak ada success story yang nyata di tetangga sebelah. Menariknya, banyak pembudidaya yang justru merasa trauma atau “kecewa” dengan teknologi seperti autofeeder yang pernah mereka coba karena kendala teknis dan after-sales yang minim.

Di lapangan, saya bertemu dengan informan luar biasa seperti Pak Nanang dan beberapa pembudidaya di Cijambe (1-2 Juli 2025). Meskipun akses internet dan listrik sudah oke, mereka tetap lebih percaya cara tradisional yang dianggap lebih “terkontrol” dan murah. Ada semacam distrust terhadap klaim keberhasilan produk teknologi yang seringkali dianggap over-claim. Bahkan, beberapa alat canggih berakhir jadi pajangan karena dianggap bikin boros pakan atau malah rusak dan nggak ada yang benerin.

Diskusi berlanjut dengan NXG Indonesia (2 Juli 2025) soal literasi digital. Poin pentingnya: adopsi teknologi nggak boleh melupakan moral economy dan budaya setempat. Kita nggak bisa sekadar jualan alat tanpa melihat pola relasi “bandar” dan pembudidaya yang sudah mengakar. Kadang, keputusan pakai alat atau nggak itu bukan di tangan petani, tapi di tangan pemberi modal. This is a complex social web, guys.

Sebagai penutup maraton ini, saya mampir ke SBM ITB (3 Juli 2025) untuk mendiskusikan Soft System Methodology(SSM) sebagai pisau analisis. Intinya, untuk memperbaiki adopsi teknologi, kita nggak boleh cuma lihat aspek teknis, tapi harus fokus pada human activity system. Semua stakeholder harus masuk dalam satu gambar besar (rich picture) agar solusinya nggak cuma jadi “pulau-pulau” kecil yang nggak nyambung.

Takeaway-nya simpel: teknologi itu penting, tapi memanusiakan manusianya jauh lebih krusial. Berhenti jualan “masa depan” kalau urusan perbaikan tanggul, kestabilan harga pakan, dan pendampingan nyata belum beres. Kita butuh teknologi yang punya “jiwa,” bukan cuma sekadar sirkuit dan sensor. Let’s keep the research grounded!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *