Ngobrol santai bareng Pak Supito Sumarto dari BBPBAP Jepara (16 Juni 2025) beneran membuka mata saya soal betapa menantangnya mengurus “perut” bangsa melalui akuakultur. Bayangkan, 70-80% sektor ini digerakkan oleh pembudidaya skala kecil yang setiap harinya harus gambling dengan cuaca dan penyakit yang makin pinter bermutasi. Sebagai peneliti, saya melihat ada gap besar antara inovasi yang lahir di laboratorium dengan apa yang benar-benar bisa dipakai oleh bapak-bapak di tambak.
Satu hal yang menarik dari diskusi ini adalah konsep “Kampung Budidaya” dan revitalisasi kawasan. Pak Supito cerita gimana mereka mulai fokus ke komoditas strategis kayak nila salin, bandeng, udang, sampai rumput laut. Tapi jujur, yang bikin saya impressed adalah kejujuran beliau soal kegagalan teknologi di masa lalu. Banyak alat canggih cuma jadi pajangan karena inovasinya nggak berbasis kebutuhan riil pembudidaya. It’s a classic problem: we love high-tech, but we often forget about high-touch alias pendampingan manusianya.
Bicara soal teknologi, KKP sekarang lagi dorong penerapan IoT lewat kolaborasi dengan startup kayak JALA atau Crustea. Tapi ada syarat mutlaknya: listrik harus masuk dulu!. Di Muna, Sultra, kolaborasi ini sudah mulai jalan dengan pendampingan intensif. Ini senada dengan temuan saya waktu fieldwork di Bandung dan Subang (30 Juni – 3 Juli 2025), di mana masalah infrastruktur dasar seringkali jadi penghambat utama sebelum kita bicara soal AI atau Blockchain.
Pak Supito juga menekankan pentingnya “Rekayasa Sosial”. Ternyata, teknologi sekeren apapun nggak akan jalan kalau kelembagaan kelompoknya berantakan. Riset bareng ACIAR bahkan menunjukkan kalau jumlah anggota kelompok yang ideal itu nggak lebih dari 10 orang supaya komunikasinya lancar. Ini poin yang krusial banget buat kita para peneliti: jangan cuma jualan “teknologi langit”, tapi bantu juga beresin “lumpur” di manajemen kelompoknya.
Sebagai penutup, masukan beliau buat riset BRIN ke depan cukup telak: riset harus adaptif, applicable, dan jangan cuma berhenti di jurnal. Kita butuh ekosistem digital yang terintegrasi dari hulu ke hilir, bukan cuma sekadar jualan alat. Jangan sampai pembudidaya kecil kita cuma jadi objek pasar teknologi tanpa benar-benar naik kelas secara ekonomi. Let’s keep our feet in the mud and our eyes on the tech!


Leave a Reply