Menjaga “Ruh” Hand-Drawn Art di Tengah Gempuran AI Generatif bersama Strayflux Studio

Maraton riset saya tentang adopsi Artificial Intelligence (AI) di industri game lokal membawa saya pada sebuah obrolan yang membuka mata. Setelah sebelumnya saya sempat membedah dapur Agate International bareng Mas Vincentius Ismawan (waktu wawancara 30 Juni – 3 Juli 2025 di Bandung) dan mengintip dapurnya Separuh Interactive bareng Mas Ardhan Fadhlurrahman pada 22 Juni 2026 kemarin, kali ini saya bergeser ke kreator game indie berbasis Bandung, yaitu Strayflux Studio. Tepat pada tanggal 25 Mei 2026, saya mengobrol panjang lebar dengan sang founder, Mochamad Galih Prasetya.

Strayflux Studio ini punya posisi yang unik banget di industri. Didirikan tahun 2019 dan diperkuat oleh 7 anggota inti yang sudah nge-game bareng selama lebih dari tujuh tahun, mereka sangat konsisten di jalur game 2D dengan artstyle hand-drawn yang khas. Salah satu karya mereka yang sukses meluncur di Steam dan Nintendo Switch adalah As I Began to Dream. Nah, sebagai peneliti yang suka kritis melihat tren teknologi, saya penasaran: gimana sebuah studio yang mengandalkan keaslian goresan tangan manusia merespons badai Gen-AI?

Jawabannya tegas dan bikin saya kagum: Strayflux berkomitmen penuh untuk tidak menggunakan AI generatif dalam pembuatan aset visual, audio, karya seni kreatif, maupun hasil akhir produk game mereka. Alasan mereka sangat filosofis sekaligus strategis. Pertama, demi menjaga autentisitas karya. Mas Galih percaya kalau emosi, detail halus, dan identitas visual hand-drawn itu butuh kreativitas murni dari manusia yang tidak bisa direplikasi oleh mesin. Kedua, ini masalah etika seni dan hukum. Dengan memastikan 100% buatan manusia, mereka melindungi Intellectual Property (IP) mereka dari isu plagiarisme dan ambiguitas hukum hak cipta yang sampai sekarang masih jadi wilayah abu-abu di dunia internasional.

But wait, apakah artinya mereka anti-AI? Oh, tentu tidak. Di sini letak menariknya human-machine collaboration yang sehat. Strayflux membagi implementasi AI ke dalam “pagar” etika yang sangat rapi di setiap fase produksi:

  1. Pre-Production: AI dipakai murni sebagai discussion tools. Waktu desainer mereka kena creative block, mereka menggunakan AI untuk mengeksplorasi variasi tema, memperluas narasi cerita, atau memetakan mekanik game. Hasil akhirnya tetap ditulis dan difinalisasi manual.
  2. Production: Alih-alih menggantikan peran manusia, AI diposisikan sebagai companion bagi para programmer. Coding mekanik game sering kali melibatkan rumus matematika dan fisika yang rumit serta penulisan kode dasar yang repetitif. AI membantu menyarankan code snippets, optimasi algoritma, dan mempercepat debugging. Efeknya? Programmer bisa fokus ke arsitektur sistem yang lebih makro dan mengejar gameplay feel yang pas.
  3. Testing, Fix & Gold: Di tahap akhir, AI dioptimalkan untuk merekap data permainan pemain (playtest) guna mendeteksi bagian mana yang perlu diperbaiki. Pas mau rilis, AI juga dimanfaatkan untuk memeriksa tata bahasa (proofreading) pada draf lokalisasi bahasa tertentu agar tidak ada typo yang mengganggu kenyamanan bermain.

Melihat model yang diterapkan Strayflux, saya sebagai peneliti merasa draf evaluasi Indonesia Game Rating System (IGRS) yang sempat kita bahas di Garuda Spark pada 5 Mei 2026 lalu beneran menemukan relevansinya. Industri kreatif kita tidak perlu ketakutan kehilangan lapangan kerja atau identitas budayanya kalau para pelakunya punya kompas etika yang jelas. AI tidak harus jadi ancaman yang memotong kompensasi atau menggusur seniman lokal.

Lessons learned dari obrolan bersama Mas Galih: teknologi itu alat, tapi jiwa dari sebuah karya tetap ada pada manusia. Ketika teknologi diletakkan di porsi yang tepat—bukan untuk instanisasi hasil akhir, melainkan untuk efisiensi proses di balik layar—di situlah ekosistem industri game kita bisa tumbuh sehat, berdaulat, dan tetap dihargai tinggi oleh pasar global. Salute for the stance, Strayflux!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *