Tech in the Pond: Realita Digitalisasi Akuakultur dari Jogja ke Bantul

Halo kawan-kawan! Back again with me. Kali ini saya baru saja menyelesaikan fieldwork singkat tapi padat di area Yogyakarta dan Bantul (14-17 Juli 2025). Topiknya masih seputar “teknologi langit” yang mencoba membumi, tapi kali ini lokasinya bukan di sawah, melainkan di kolam dan tambak udang. Seperti diskusi saya sebelumnya bareng tim BRAIN IPB pada 11 Juni 2025 soal AI dan Blockchain di pertanian, tantangan di sektor akuakultur ini ternyata punya pola yang mirip: the gap between innovation and adoption is still real.+1

Perjalanan dimulai pada 14 Juli dengan ngobrol bareng tim Banoo Indonesia. Jujur, saya terkesan dengan pendekatan mereka yang evidence-based dan sangat mendengarkan feedback pembudidaya—sampai-sampai sistem mereka pakai GSM karena tahu WiFi di tambak itu barang mewah yang sering hilang timbul. Alat microbubble mereka diklaim bisa meningkatkan produktivitas 2-3 kali lipat. Tapi yang bikin saya geli sekaligus kagum sebagai peneliti adalah fakta bahwa ada pembudidaya yang saking kreatifnya sampai bisa merakit alat sendiri dari bekas supercharger mobil!Local wisdom at its best, right?

Besoknya, 15 Juli, saya bergeser ke kampus UGM untuk diskusi dengan Ibu Alia. Dari perspektif akademis, beliau menekankan pentingnya penyuluhan berbasis riset. UGM sedang gencar mendorong “ekosistem digital integratif”. Namun, ada poin kritis yang menarik: meskipun teknologinya canggih, kendala utama tetap pada infrastruktur digital yang nggak merata dan biaya operasional yang masih mencekik buat pembudidaya kecilSustainability bukan cuma soal ekologi, tapi juga soal apakah dompet pembudidaya kuat bertahan dengan teknologi itu.

Puncaknya pada 16 Juli, saya turun langsung ke tambak udang di Bantul. Di sini saya ketemu realitanya. Pembudidaya di sana sudah pakai E-Feeder dari eFishery dan merasa sangat terbantu secara efisiensi. Tapi ironisnya, di saat startup teknologi rajin berkunjung, komunikasi dari dinas atau pemerintah justru absen total. Petambak merasa “jalan sendiri” tanpa penyuluhan resmi. Mereka lebih percaya tutorial YouTube atau tanya tetangga daripada nunggu bantuan pemerintah yang nggak kunjung datang.

Melihat ini semua, saya teringat diskusi kebijakan perlindungan data pribadi di Bandung (11 November 2025). Di sektor akuakultur pun, data mulai jadi aset. Banoo sudah mulai pakai sensor IoT untuk monitoring kualitas air secara real-time. Tapi pertanyaannya: siapa yang mengelola data ini untuk kepentingan petambak secara luas? Tanpa regulasi dan integrasi data yang kuat, inovasi ini bakal tetap jadi “pulau-pulau” kecil yang nggak nyambung satu sama lain, seperti yang saya kritisi di artikel sebelumnya.

Sebagai penutup, fieldwork kali ini mengonfirmasi bahwa teknologi itu penting, tapi “pagar” kebijakan dan pendampingan manusia jauh lebih krusial. Kita butuh pendekatan yang lebih inklusif, bukan cuma sekadar jualan alat. Jangan sampai pembudidaya kita cuma jadi objek pasar teknologi tanpa benar-benar berdaya secara ekonomi. Let’s make sure the digital wave doesn’t drown the small players. Sampai jumpa di catatan lapangan berikutnya!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *