Apa kabar, teman-teman pembaca? Hope you’re all doing great! Masih ingat cerita saya waktu fieldwork di Jogja dan Bantul (14-17 Juli 2025) yang penuh dengan optimisme teknologi? Nah, kali ini saya baru saja mendarat kembali dari pesisir selatan, tepatnya Lebak, Banten (28-29 Juli 2025). Jujur, kontrasnya terasa banget. Kalau di Jogja kita bicara soal efisiensi e-feeder, di Lebak kita bicara soal survival melawan alam dan infrastruktur yang masih “mengenaskan”.




Perjalanan kali ini benar-benar menjadi eye-opener buat saya. Ternyata, digital literacy sebenarnya bukan masalah utama. Para pembudidaya di Lebak sudah sangat fasih menggunakan smartphone untuk operasional harian. Tapi masalahnya klasik: buat apa ada aplikasi canggih kalau sinyal internet cuma muncul di titik-titik tertentu dan listrik sering mati mendadak? Di salah satu tambak, saya dengar cerita pilu: kalau listrik mati lebih dari 3 jam, udang harus segera dipanen paksa dengan harga jual yang anjlok sampai 50% demi menghindari kematian massal. It’s a high-stakes game with very thin safety nets.
Tantangan alam di selatan Banten juga nggak main-main. Pesisir yang berkarang dan gelombang tinggi membuat instalasi pipa air laut jadi sangat mahal dan sulit. Jadi, jangan heran kalau pembudidaya di sini melihat teknologi baru sebagai cost center alias beban biaya tambahan, bukan solusi. Mereka lebih percaya cara tradisional yang sudah terbukti hasilnya daripada mencoba alat dari startup yang sering dianggap over-claim dan minim dukungan after-sales.
Ada sentimen menarik soal “kepercayaan”. Para petambak cenderung skeptis terhadap startup karena legalitas dan bukti manfaatnya dianggap belum kuat. Mereka justru lebih menunggu riset dan produk dari pemerintah karena dirasa lebih terjamin secara hukum. Sayangnya, realitanya pendampingan dari dinas atau kementerian justru dirasa absen total di lapangan. Kondisi ini mirip dengan apa yang saya kritisi saat FGD Online (26-27 Agustus 2025), di mana seringkali ada gap besar antara kebijakan pusat dengan kebutuhan riil di kolam.
Sebagai peneliti, saya melihat ada isu besar soal manajemen risiko dan data. Pembudidaya sebenarnya sangat butuh teknologi pengukuran kualitas air (pH, salinitas, mineral) karena biaya cek lab mandiri itu mahal banget. Tapi lagi-lagi, siapa yang akan mengelola data ini? Tanpa regulasi dan integrasi data yang kuat—seperti yang saya diskusikan di Bandung (11 November 2025) soal perlindungan data pribadi—inovasi ini cuma akan jadi beban operasional baru buat mereka.
Penutupnya, digitalisasi itu penting, tapi “pagar” infrastruktur dasar seperti listrik dan jalan harus dibenahi dulu. Jangan sampai kita sibuk jualan AI, tapi petambak kita masih harus bertaruh nyawa cuma buat narik pipa air laut di tengah ombak besar. Kita butuh pendekatan yang lebih humanis dan inklusif, bukan sekadar memaksakan alat ke tangan mereka yang sedang berjuang melawan realita lapangan yang brutal. Let’s keep it real!


Leave a Reply