Halo, Sobat Digital! Pernah terpikir tidak, betapa mudahnya kita sekarang berbelanja? Hanya dengan modal jempol dan kuota, barang dari ujung pulau bisa sampai ke depan pintu rumah. Fenomena menjamurnya e-commerce ini memang luar biasa, tapi di balik kemudahannya, bagaimana nasib para pejuang UMKM kita? Kemarin, saya sempat berbincang seru di program Jendela Negeri TVRI bersama Mas Maulana Akbar dari BRIN untuk mengupas tuntas hal ini.












Diskusi kita diawali dengan sebuah fakta yang cukup mencengangkan. Sejak pandemi COVID-19, transaksi digital kita melonjak drastis—naik hingga 50% hanya dalam waktu singkat! Saat ini, sekitar 80% masyarakat Indonesia sudah melek internet. Ini artinya, pasar kita sangat masif. Indonesia bahkan memegang kendali hampir setengah dari total transaksi e-commerce di seluruh Asia Tenggara. Potensinya? Tentu saja sangat “gurih” untuk para pelaku usaha.
Namun, Mas Maulana mengingatkan bahwa e-commerce itu ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah peluang emas karena siapa pun, dari mana pun, punya kesempatan yang sama untuk berjualan ke pasar nasional maupun global. Tapi di sisi lain, ini bisa jadi “alarm” bahaya. Persaingan bukan lagi dengan tetangga sebelah, melainkan dengan produk-produk global yang seringkali punya harga jauh lebih miring.
Salah satu tantangan nyata yang kita bahas adalah soal literasi digital. Ternyata, meskipun banyak yang punya internet, kebanyakan masih menggunakannya untuk hiburan saja, bukan untuk produktivitas. Selain itu, ada tantangan teknologi baru seperti AI. Bagi UMKM yang belum siap beradaptasi, mereka berisiko tertinggal karena ekosistem digital berubah sangat cepat.
Lalu, apa solusinya agar UMKM kita tidak sekadar jadi penonton? Mas Maulana menekankan pentingnya membangun Brand Positioning. Jangan hanya perang harga, karena marginnya pasti akan semakin tipis. UMKM harus punya “nilai lebih”—misalnya dengan mengangkat kearifan lokal atau kualitas layanan yang lebih personal. Nilai budaya kita yang beragam adalah aset mahal yang tidak dimiliki oleh produk asing.
Pemerintah juga punya PR besar, terutama soal biaya logistik dan infrastruktur internet agar lebih inklusif. Kita semua tentu berharap agar manfaat ekonomi digital ini tidak hanya dirasakan oleh mereka yang di kota besar, tapi juga teman-teman kita di pelosok Nusantara. Dengan ekosistem yang adil, UMKM kita pasti bisa naik kelas.
Nah, buat kamu para pelaku UMKM, jangan menyerah ya! Jadikan e-commerce sebagai etalase, tapi bangunlah koneksi yang kuat dengan pelangganmu. Seperti pesan penutup dari diskusi kemarin: “Mari kita manfaatkan teknologi dengan bijak agar kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.”

Leave a Reply