Setelah dua hari berturut-turut mengulik dapur 4Happy Studio dan Pocket Lite Studio, di hari ketiga fieldwork Batam tanggal 8 Juli 2026 kemarin, langkah kami bergeser ke Dreams Studio pada tanggal 9 Juli 2026. Berbeda dari obrolan sebelumnya yang banyak menyentuh sisi ideasi atau estetika visual, diskusi saya dengan Jonas Tan (Tech Lead Dreams Studio yang juga alumnus 4Happy Studio dan Lentera Nusantara) kali ini jauh lebih teknikal. Kami banyak membedah bagaimana sebuah studio mengelola reusabilitas aset, menyeimbangkan utang teknis (technical debt), hingga menerapkan AI langsung di level codebase.
Satu hal yang bikin saya terkesan dari Dreams Studio adalah efisiensi timnya. Dengan formasi 3 desainer dan 7 artistberstatus pegawai tetap, mereka terbukti sanggup melahirkan gim seperti Cat Legend. Rentang proyek mereka pun terhitung gesit, mulai dari 2–4 minggu untuk skala kecil sampai 2–3 bulan buat proyek ukuran sedang. Di tengah ritme secepat itu, Jonas menekankan ke saya betapa krusialnya manajemen repository di GitHub. Aset-aset seperti shader, komponen kode, sampai backdrop harus tersusun rapi supaya bisa dipakai ulang di proyek berikutnya tanpa perlu bikin ulang dari nol.
Soal adopsi AI, cara pandang Jonas menurut saya sangat matang dan terukur. Di Dreams Studio, AI dipakai buat memangkas pekerjaan repetitif, bikin fondasi kode awal, dan membantu tim mengeksplorasi teknologi baru saat bikin prototipe. Tapi ada satu garis tegas yang Jonas tekankan saat ngobrol bareng saya: jangan pernah copy-paste buta. Bagi dia, efisiensi AI bakal percuma kalau pengembangnya nggak paham konteks atau asal terima output AI. Ujung-ujungnya, itu cuma bakal nimbukin technical debt yang meledak pas fase pemeliharaan pasca-rilis.
Obrolan kami hari itu akhirnya ditutup dengan bahasan soal sisi komersial industri gim. Jonas sempat menguraikan tantangan klasik pengembang lokal yang sering kali jago di teknis tapi masih buta strategi pemasaran. Lewat skema magang yang mereka terapkan sebagai ruang two-way learning, Jonas percaya kalau talenta muda sekarang nggak cuma butuh kemampuan coding, tapi juga kemauan belajar yang adaptif dan mentalitas kewirausahaan. Pemanfaatan AI pada akhirnya bukan soal cara instan buat pangkas biaya demi untung cepat, melainkan soal menjaga kualitas dan transparansi demi merawat kepercayaan publisher serta pemain.


Leave a Reply