Belajar Survival Bareng Pocket Lite Studio di Batam

Kalau kalian pikir studio game lokal itu semuanya harus berawal dari modal miliaran rupiah dan kantor mentereng di kawasan SCBD, fix kalian harus dengerin cerita anak-anak Pocket Lite Studio dari Batam. Tepat pada tanggal 7 Juli 2026 kemarin, di tengah agenda fieldwork riset kami di Kepulauan Riau, saya berkesempatan untuk duduk bareng dan ngobrol mendalam dengan tim Pocket Lite Studio, salah satunya bareng Ilham Taufik Hidayat (CEO) dan Lerry Sabilila (HR & 2D Artist/Animator). Obrolan santai sambil makan siang ini membuka mata saya tentang geliat nyata pengembang gim lokal di luar Pulau Jawa.

Perjalanan mereka ini jujur beneran berawal dari keisengan yang berfaedah. Bermula dari hobi bikin gim dan sekadar meramaikan ajang kompetisi gim yang diadakan Kementerian Kominfo (sekarang Komdigi) beberapa tahun lalu, mereka akhirnya sadar kalau karya mereka punya nilai ekonomis. Dari sekadar side project, mereka nekat melangkah lebih jauh sampai akhirnya bisa melegalkan Pocket Lite Studio sebagai entitas bisnis yang serius mengeksplorasi ceruk pasar gim di Indonesia.

Sebagai peneliti yang sebelumnya juga sempat membedah dapur studio besar seperti Agate bareng Mas Vincentius Ismawan (30 Juni – 3 Juli 2025 di Bandung) dan Separuh Interactive bareng Mas Ardhan Fadhlurrahman (22 Juni 2026), dinamika Pocket Lite ini menawarkan peta realita yang berbeda. Kalau studio raksasa sibuk memikirkan otomasi alur kerja tingkat tinggi atau ekspansi B2B global, studio skala indie dan berkembang seperti Pocket Lite justru harus sangat taktis menghadapi tantangan riil di lapangan, mulai dari talent pool lokal, retensi tim, sampai monetisasi yang applicable.

Salah satu poin kritis yang mencuat dalam diskusi kami adalah soal kesenjangan talenta. Batam itu unik, posisi geografisnya sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia, tapi ekosistem pendukung talenta digitalnya masih didominasi oleh SMK Pariwisata atau LPK IT standar. Lembaga pendidikan vokasi yang khusus mematangkan talenta animasi atau game programming masih bisa dihitung dengan jari. Akibatnya, studio lokal seperti Pocket Lite harus mau berinvestasi waktu untuk membina dan mengasah talenta lokal dari nol agar siap masuk ke alur produksi gim yang dinamis.

Soal adopsi teknologi modern seperti Gen-AI, pendekatan mereka juga tergolong realistis. Mereka tidak mentah-mentah menyerahkan proses kreatif ke kecerdasan buatan, tapi menggunakannya sebagai akselerator di fase ideation atau pendukung efisiensi aset. Prinsip ini pas banget dengan kompas etika yang sempat saya amati saat wawancara bareng Mas Bagaskara dari Berangin Creative pada 4 Juni 2026 lalu, maupun saat saya menjadi moderator FGD evaluasi IGRS di Garuda Spark pada 5 Mei 2026, di mana teknologi adalah booster, tapi foundational knowledge dan integritas hak cipta tetap harus dipegang manusia.

Dari obrolan tanggal 7 Juli lalu, makin kelihatan kalau masalah pengembang gim daerah itu bukan sekadar modal atau niat. Kalau pemerintah cuma sibuk jualan program akselerasi dari Jakarta tanpa ngeberesin kurikulum vokasi di daerah dan membuka jalur ke pasar perbatasan, studio kayak Pocket Lite bakal terus berjuang sendirian. Ilham dan Lerry sudah ngebuktiin kalau mereka bisa bertahan lewat modal nekat dan adaptasi tinggi, tapi ekosistem industri kreatif kita jelas butuh perbaikan yang jauh lebih konkret dari sekadar regulasi di atas kertas.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *