Menengok Komunitas Game Batam dan Geliat Kreatif di Gerbang Tetangga

Pernah nggak terlintas di pikiran kalian gimana rasanya jadi pengembang game yang tinggal cuma “selemparan batu” dari Singapura dan Malaysia? Pada Rabu, 8 Juli 2026 lalu, perjalanan riset saya membawa saya mampir ke Volla Cafe Batam untuk mengobrol santai bareng teman-teman dari Game Dev Batam Community. Di sana saya sempat bertemu dengan Jemes dan kawan-kawan. Di tengah suasana kafe yang super cair sambil ngobrolin board game dan dinamika developer, ada lanskap unik yang menarik banget buat dibedah dari kacamata peneliti.

Satu hal mendasar yang membedakan Batam dengan ekosistem kreator di Jawa adalah posisi geografisnya. Berada di kawasan ekonomi khusus dan berbatasan langsung dengan negara tetangga membuat para developer di sini punya dinamika yang beda. Akses mereka ke event-event industri game internasional di Singapura atau Malaysia seringkali jauh lebih mudah dan praktis daripada harus terbang ke Jakarta atau Jabodetabek. Ini menciptakan cara pandang dan jaringan yang cukup unik bagi ekosistem lokal.

Fenomena menarik lainnya adalah menjamurnya solo developer dan pengembang skala kecil di kawasan ini. Berbeda dengan studio besar berkaryawan puluhan yang sempat saya bedah saat wawancara dengan Mas Vincentius Ismawan dari Agate International beberapa waktu lalu, para kreator di Batam banyak yang bergerak secara mandiri atau dalam tim yang sangat compact. Model kerja independen ini menuntut mereka untuk serba bisa—mulai dari codingart, hingga memikirkan strategi monetisasi sendiri.

Sesi kumpul-kumpul di Volla Cafe sore itu makin cair saat kami menyempatkan diri main board game bareng. Serunya lagi, di antara meja permainan ada Lingkan, seorang dokter yang ikut gabung dan larut dalam keseruan sesi gaming ini. Menjajal game dengan mekanik lumayan kompleks seperti Hegemony butuh peran seorang Game Master yang mau mempelajari aturan rumitnya terlebih dahulu sebelum bisa mengajarkannya ke pemain lain. Sebagai akademisi, saya melihat ini bukan sekadar hiburan di kafe kopi, melainkan bentuk latihan dasar pemahaman game design dan player experience yang sangat fundamental.

Dinamika komunitas seperti di Batam ini makin mempertegas catatan saya saat sesi FGD evaluasi draf Indonesia Game Rating System (IGRS) di Garuda Spark pada 5 Mei 2026 lalu. Kebijakan dan regulasi industri game nasional kita tidak boleh Java-centric. Pemerintah perlu melihat bahwa potensi talenta daerah luar Jawa—yang berhadapan langsung dengan pasar global—butuh dukungan fasilitas dan pendampingan yang sama besarnya agar mereka tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

Membangun ekosistem game yang solid di daerah memang butuh proses maraton dan konsistensi. Dari kumpul-kumpul santai di kafe, main board game bareng, saling share game buatan sendiri, hingga berdiskusi mekanik permainan, komunitas inilah yang menjadi fondasi utama menjaga api kreativitas tetap menyala. Kudos buat Jemes dan teman-teman Game Dev Batam yang terus bergerak!


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *