Mengawali minggu dengan semangat di studio TVRI, diskusi pagi ini terasa sangat relevan bagi masa depan digital kita. Industri game, yang dulu sering dianggap sebelah mata sebagai sekadar hiburan pengisi waktu luang, kini telah bertransformasi menjadi salah satu pilar terkuat ekonomi kreatif Indonesia. Dengan potensi pasar yang mencapai 154 juta pemain di tanah air, game bukan lagi sekadar permainan, melainkan ekosistem bisnis yang menjanjikan lapangan kerja luas bagi kreator muda.
Data terbaru yang kami simulasikan di BRIN bersama Komdigi menunjukkan angka yang fantastis: dampak ekonomi industri ini berkisar antara Rp30 triliun hingga Rp71 triliun per tahun. Kontribusinya terhadap PDB nasional mencapai 0,36%, sebuah angka yang tidak bisa diabaikan. Menariknya, dampak ini tidak hanya terpusat di Jakarta, tetapi juga merambah ke wilayah regional seperti Jawa Barat, Bali, hingga Kepulauan Riau, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis digital.




Keberhasilan ini tercermin dari geliat komunitas di daerah, seperti GADAS (Game Developer Arek Surabaya). Semangat “bondho nekat” khas Surabaya kini bertransformasi menjadi kreativitas digital. Tantangan utama yang dihadapi pengembang lokal saat ini bukan lagi soal kemampuan teknis—karena kita punya talenta hebat—melainkan soal strategi pemasaran. “Kita bisa buat, tapi belum tentu bisa jual,” menjadi refleksi penting bahwa membangun game juga berarti membangun strategi bisnis dan branding yang kuat.
Pemerintah pun telah menunjukkan komitmen serius melalui terbitnya Perpres Nomor 19 Tahun 2024 tentang Percepatan Industri Game Nasional. Regulasi ini menjadi payung hukum sekaligus peta jalan untuk menyinkronkan peran antarlembaga. Di tengah perubahan struktur kementerian di tahun 2025-2026 ini, kita perlu memastikan bahwa strategi yang disusun tetap tepat sasaran dan adaptif terhadap tantangan global yang semakin ketat dari negara-negara seperti China, Vietnam, dan Finlandia.
Salah satu keunggulan kompetitif yang kita miliki adalah kekayaan budaya. Game seperti Dread Out telah membuktikan bahwa narasi lokal yang dikemas dengan kualitas global bisa sukses di pasar internasional seperti Amerika Serikat dan Jepang. Identitas budaya kita bukan sekadar pelengkap, melainkan nilai jual unik yang membedakan produk Indonesia di tengah banjirnya judul game di platform global. Memasukkan unsur lokal adalah kunci untuk “naik kelas.”
Selain aspek ekonomi, kita juga harus melirik potensi Serious Games atau game edukatif. Game kini digunakan sebagai alat simulasi di bidang kesehatan, pendidikan, hingga latihan luar angkasa seperti yang dilakukan NASA. Di Indonesia, kesadaran ini mulai tumbuh, bahkan anak-anak usia 7 tahun sudah mulai belajar membuat game sendiri (seperti di platform Roblox). Ini adalah langkah positif untuk mengubah pola pikir anak dari sekadar “konsumen” menjadi “produsen” konten digital.
Namun, kita tidak boleh menutup mata terhadap tantangan internal. Dari sekitar 200 hingga 400 studio game yang ada, kontribusi game lokal terhadap pasar domestik masih di bawah 4%. Sebagian besar pasar kita masih didominasi oleh produk luar. Ini adalah PR besar bagi kita semua: bagaimana menjadikan masyarakat Indonesia sebagai tuan rumah di pasar sendiri, bukan hanya menjadi penonton atau pembeli aset di game asing.
Sektor ketenagakerjaan juga merasakan dampak langsung yang signifikan. Industri ini menyerap sekitar 30.000 hingga 60.000 tenaga kerja secara langsung, namun efek bergandanya (multiplier effect) ke sektor telekomunikasi, transportasi, dan infrastruktur digital bisa mencapai 1 juta tenaga kerja. Artinya, satu studio game yang tumbuh akan menghidupi banyak ekosistem pendukung di sekitarnya.
Ke depan, tren game akan bergeser ke arah multiplayer dan interaksi sosial yang lebih dalam. Game bukan lagi tempat bermain yang sunyi, melainkan ruang komunikasi dan kolaborasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pengembang, investor, dan pemerintah dalam acara seperti Indonesia Game Developer Exchange (IGDX) harus terus diperluas hingga ke luar Pulau Jawa agar talenta di pelosok negeri bisa ikut bersaing.
Sebagai penutup, pesan saya untuk para pengembang muda: jangan menyerah. Membuat game adalah proses maraton, bukan lari pendek. Indonesia memiliki modal budaya dan pasar yang sangat besar. Jika kita bisa mengombinasikan kreativitas, ketekunan, dan dukungan regulasi yang tepat, masa depan ekonomi kreatif kita tidak hanya akan cerah, tetapi juga akan dipimpin oleh karya-karya anak bangsa. Mari kita jadikan Indonesia sebagai pemain utama di panggung digital global!
Poin Utama Diskusi:
- Nilai Ekonomi: Kontribusi hingga Rp71 triliun dan dampak PDB 0,36%.
- Regulasi: Perpres 19/2024 sebagai strategi percepatan nasional.
- Tantangan: Pemasaran, monetisasi bagi developer indie, dan dominasi pasar asing.
- Peluang: Pemanfaatan konten lokal dan pengembangan serious games untuk edukasi.

Leave a Reply