Halo semuanya! Back again with me. Kali ini saya mau share sedikit oleh-oleh dari diskusi bareng tim BRAIN IPB pada tanggal 11 Juni 2025 kemarin. Topiknya seru banget tapi juga bikin dahi agak mengkerut: gimana caranya bawa teknologi “langit” kayak AI dan Blockchain buat membumi di sektor pertanian dan kelautan kita. Sebagai peneliti, saya selalu excited lihat inovasi, tapi di sisi lain, we have to be realistic about the challenges on the ground.



Jujur, saya impresif banget lihat list implementasi teknologi yang sudah digarap BRIN dan IPB. Bayangkan, mereka sudah pakai AI buat prediksi kematangan mangga ekspor ke Jepang sampai otomatisasi sertifikasi halal via Sihalal. Bahkan di sektor akuakultur, ada smart feeding buat ikan kerapu dan monitoring kesehatan terumbu karang pakai drone dan IoT. It’s not just a lab concept anymore, it’s actually happening!.
Tapi, here’s the critical part. Membangun teknologinya itu satu hal, tapi memastikan petani dan nelayan kita bisa (dan mau) pakai, itu another story. Masalah klasik yang muncul tetap saja soal literasi digital dan digital mindset. Petani kita itu praktis; kalau ribet, ya ditinggal. Makanya, pendekatan IPB yang bikin aplikasi dengan visual dominan dan tombol besar itu a smart move untuk menjembatani low literacy. Tech must adapt to people, not the other way around.
Selain itu, diskusi kemarin juga menyentuh soal Blockchain untuk traceability kopi dan sawit, sampai sertifikasi tanah digital. Ini krusial banget buat transparansi rantai pasok kita. Tapi ya itu, lagi-lagi kita terbentur masalah interoperabilitas data. Data kita seringkali masih “pulau-pulau”, susah nyambungnya. Belum lagi urusan birokrasi dan pendanaan yang sering jadi rem tangan buat implementasi riset ke skala nasional.
Poin menarik lainnya yang sempat dibahas adalah soal perlindungan data pribadi dan pentingnya data sebagai aset strategis. Isu ini senada dengan diskusi saya sebelumnya di Bandung (11 November 2025) bareng Komdigi, di mana kita bahas soal Data Protection yang jadi fondasi kepercayaan digital. Tanpa regulasi yang kuat, data dari sawah sampai laut kita bisa jadi bumerang kalau tidak dikelola dengan etika digital yang benar.
The takeaway is: kolaborasi itu harga mati. BRIN dan IPB sudah buka pintu lebar-lebar buat kolaborasi interdisipliner. Kita butuh anak muda, mahasiswa, dan startup buat ikut “turun ke lumpur” lewat desa binaan. Inovasi nggak boleh cuma berhenti di jurnal atau prototipe di kampus. Let’s make sure these high-tech tools actually empower our farmers and fishermen, not just become another expensive gadget.


Leave a Reply