Sawah, Sinyal, dan Sasmita: Belajar dari “Mbah Google” ala Petani Indramayu

Obrolan saya kali ini nggak jauh-jauh dari lumpur, tapi kali ini bukan di tambak, melainkan di hamparan sawah Indramayu. Tanggal 18 Mei 2023, saya duduk bareng Pak Tomi, ketua Kelompok Tani Sri Rahayu 3. Jujur, ini adalah salah satu interview yang paling “menampar” saya sebagai peneliti. Kenapa? Karena di saat kita di Jakarta sibuk dengerin panel diskusi soal High-Tech (kayak waktu saya moderasi acara Komdigi di Bandung, 11 November 2025), Pak Tomi justru cerita gimana realita teknologi itu seringkali cuma jadi “barang pajangan” atau malah alat “kencing” oknum di lapangan.

Pak Tomi ini profil petani milenial yang unik. Background-nya otomotif, tapi jiwanya di sawah. Dia cerita kalau di Indramayu, masalahnya bukan nggak ada teknologi. Alat kayak Traktor Roda 4 (TR4) itu ada, tapi banyak yang mangkrak karena nggak sesuai sama kontur tanah lokal yang lembek—beda sama tanah di Jepang atau China tempat alat itu dibuat. Bahkan, ada isu miris soal bantuan alat yang harus “ditebus” mahal, ujung-ujungnya dijual lagi oleh oknum kelompok tani demi safety duit pribadi. Classic problem, kan? Teknologi “langit” tapi manajemennya masih “lumpur”.

Satu hal yang bikin saya kagum adalah cara Pak Tomi menghadapi perubahan iklim. Dia nggak nunggu penyuluhan dari BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) yang menurutnya sekarang kehilangan “induk” dan jarang turun ke sawah. Pak Tomi pakai Google Weather! Dia mantau curah hujan, suhu, sampai indeks UV lewat gadget buat nentuin kapan harus panen biar gabahnya nggak hancur kena hujan. Literally, dia membangun “jembatan” sendiri dari gap teknologi yang ada.

Tapi yang paling mind-blowing buat saya adalah soal Literasi Analog. Pak Tomi masih pakai ilmu titen atau astronomi kuno dari orang tuanya. Dia nggak mau tanam padi pas lagi “terang bulan”. Logikanya masuk akal banget secara sains: hama itu nokturnal dan lebih aktif pas terang bulan. Jadi, kalau padi lagi fase “bayi” atau “bunting” pas bulan purnama, risiko serangan virus dan hamanya melonjak. Ini bukti kalau kearifan lokal itu sebenarnya science-based, cuma bahasanya aja yang beda.

Kritik pedas Pak Tomi buat pemerintah dan kita para akademisi juga telak banget. Dia bilang, jangan cuma kasih bantuan fisik yang malah bikin pergesekan di bawah. Dia lebih butuh investasi SDM. Waktu ditanya kalau ketemu Presiden mau minta apa, dia nggak minta traktor lagi. Dia minta dibangunin Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian yang bener di Indramayu. Dia pengen anak cucunya bangga jadi petani yang melek teknologi, bukan cuma jadi buruh di atas tanah sendiri.

Pesan Pak Tomi simpel tapi dalem: “Kalau sudah turun ke sawah, sejatinya kita semua sama-sama bodoh karena setiap hari harus belajar membaca situasi.” Ini pelajaran penting buat kita yang sering bikin kebijakan dari balik meja (kayak yang saya kritisi di FGD Online Agustus 2025 lalu). Transformasi digital itu nggak akan jalan kalau kita nggak bisa men- translate teknologi ke dalam bahasa budaya dan perilaku lokal. Let’s not just sell gadgets, let’s build a digital soul in our farmers!

Bukan Sekadar Drone dan Gadget: Realita ‘Survivor’ di Sawah Indramayu

Kembali lagi di catatan fieldwork saya! Setelah sebelumnya saya sempat ngobrol panjang lebar dengan Pak Tomi di tanggal 18 Mei 2023 soal dilema traktor roda empat yang sering “ambles” di lumpur, kali ini saya ingin menarik garis mundur ke obrolan saya dua hari sebelumnya, tepatnya tanggal 16 Mei 2023 di Pijasari, Indramayu. Di sana, saya bertemu Pak Darma dan Pak Duyakman, dua sosok “senior” yang sudah puluhan tahun berkutat dengan padi. Kontrasnya menarik banget: satu sisi kita bicara soal modernisasi yang high-tech, tapi di sisi lain kita melihat bagaimana para petani ini bertahan dengan cara-cara yang sangat manual dan resilient.

Pak Darma sudah bertani sejak lulus sekolah dasar, kira-kira 50 tahun yang lalu! Bayangkan, dari zaman masih jadi buruh panggul sampai sekarang sudah bisa menggarap lahan sendiri. Buat saya sebagai peneliti, obrolan ini jadi reality checkyang keras. Kita sering bicara soal Precision Agriculture atau penggunaan AI di sektor pangan—mirip diskusi seru saya bareng tim BRAIN IPB di tanggal 11 Juni 2025—tapi di lapangan, masalahnya masih soal gimana caranya nyemprot hama tanpa bikin badan remuk. Pak Darma cerita, meskipun sekarang sudah ada teknologi kayak drone untuk nyemprot atau menebar pupuk, kenyataannya banyak petani yang masih pakai tenaga manusia karena urusan biaya dan akses.

Satu poin yang bikin saya agak kritis adalah soal gap teknologi. Di wawancara tanggal 16 Mei 2023 tersebut, kami sempat menyinggung soal petani di Amerika yang satu orang saja bisa punya pesawat atau drone untuk mengelola lahan luas. Di Indonesia? Kita masih berjuang dengan validasi data yang “carut marut” (kata Pak Tomi di wawancara 18 Mei). Pak Darma dan Pak Duyakman memberikan gambaran kalau adopsi teknologi itu bukan cuma soal beli alat, tapi soal ekosistem. Kalau biaya operasional nyemprot pakai drone mencapai Rp160 ribu tapi pengerjaannya belum tentu presisi karena settingan-nya ribet, petani ya balik lagi ke cara lama yang lebih mereka percaya.

Menariknya, meskipun mereka “generasi kolonial”, mereka nggak anti-teknologi. Mereka tahu ada alat-alat canggih, tapi mereka sangat kalkulatif soal efisiensi. Ini senada dengan temuan saya di Jogja dan Bantul (14-17 Juli 2025) di mana petambak lebih percaya tutorial YouTube daripada penyuluhan resmi. Di Indramayu pun sama, komunikasi antar petani terjadi secara organik. Pak Tomi menyebutnya “Komunikasi Matic” atau otomatis—nggak perlu instruksi lisan, cukup lihat traktor satu orang turun ke sawah, yang lain langsung gerak. Social capital ini yang seringkali luput dari perhitungan kita para pembuat kebijakan.

Sebagai penutup catatan kali ini, saya jadi makin yakin kalau transformasi digital di sawah itu nggak bisa dipaksa. Kita butuh pendekatan yang lebih “membumi”—benahi dulu masalah pupuk yang susah (seperti keluhan soal jatah subsidi yang cuma 2.5 kuintal per 2 hektar pasca 2018) dan perbaiki infrastruktur dasar. Jangan sampai kita sibuk jualan “teknologi langit”, tapi buat beli solar buat traktor saja petani masih harus kucing-kucingan. Petani kita itu survivor yang hebat, mereka hanya butuh didengar, bukan sekadar disuapi gadget tanpa solusi nyata.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *