Category: Poem
-

Jadi Tua
Jadi tua itu mengesalkan : Badan sakit-sakitan, kulit keriput, daya ingat payah. Apalagi apabila tingkah laku sudah seperti kanak-kanak : ngompol dicelana, menangis dan meracau karena hal sepele. Anak kecil sih lucu, nah ini. Jadi tua itu jadi beban anak-anaknya, diomeli tiap saat. Sampai anak-anaknya bertanya, kapan kau berkalang tanah saja. Di hati yang terdalam,…
-

Pendayang
Kembang latar mati lantaran dipetik oleh pelawat. Ironis. Satu hari di Tebet, Jakarta Selatan, bertempat di ruangan In de Kost yang biasanya merdu oleh suara beradu insan yang terengah-engah, kini telah hening. Si penyewa yang dedeuh berkalang tanah oleh tamu yang pulang tanpa membayar. Dedeuh, dalam bahasa sunda artinya ‘sayang’, kini tidak bisa mengobral rasa…
-

Suara Siti
Seperti Siti yang seorang Insinyur bangunan itu, yang menjadi pelatih balet di kelas tari kanak-kanak. Meninggalkan gelar dan tumpukan buku sains demi getaran hati dengungan passion. Aku tidak mengenalnya, tapi merasakan risau orang tuanya. Mereka keheranan, mungkin. “Sekolah setinggi-tingginya lalu banting setir setelahnya.” Suaranya. Suaranya seperti satu muara. Tidaklah benar Situ biangnya. Ia benar, menurutku.…
-

Senin
Antipati pada Senin yang rindu. Lantaran ia memecah tidurmu. Memekik untuk tetap berlari dan tidak semaput. Ia sudah tahu kau mengagung-agungkan matahari daripada bulan. Menyembah Minggu daripadan Senin. Meringkus waktu demi bertahan. Singkat waktu pesta pora usai, dengan parau kau berkata : Sial, besok Senin !
-

3.15
Dalam bayanganku, ada beberapa bayangan menyeramkan seperti anak kecil dalam film Ju-On. Anak kecil dengan wajah Asia berkulit putih tulang, seperti ditaburi bedak saripohatji sebanyak tiga bungkus seharga lima puluh perak pada tahun 1980an. Ia menengok lantas menatap gidik mataku. Ia tidak bertutur atau mengoceh. Aku berharap kalau ia adalah Jibril yang turun dan memberikan…
-

Tengkulak Jepang
Tengkulak-tengkulak Jepang berak. Dimakan tamak oleh priayi-priayi lapar. Jalanan selalu penuh sesak. Karena priayi selalu lapar. Tengkulak-tengkulak Jepang Buncit. Priayi-priayi masih lapar. Mari kita tambah sesak. Oleh kotoran tengkulak-tengkulak Jepang. Disana ada mobil murah. Bukan sembako yang murah. Karena priayi-priayi tidak makan sembako. Cuma makan kotoran tengkulak-tengkulak Jepang. Tengkulak-tengkulak Jepang semakin banyak berak. Priayi-priayi semakin…
-

Aku Tahu Itu Matahari
Aku tahu, matahari tidak mungkin malas terbit seperti aku malas bangun di hari Senin. Aku juga tahu, matahari tidak mungkin lupa terbenam seperti aku yang lupa tidur karena keasyikan ngobrol di kedai kopi. Dan aku juga tahu, matahari akan tetap menjadi matahari sampai kapan pun, tidak sepertiku, pernah menjadi John Lenon, Kurt Cobain, sampai nyaris…
-

Berang Jadinya
Padahal kita sandingan sejak lampau. Lantaran kita berbeda pandangan. Tentang Presiden yang memimpin kampung halaman, jadi begini remuk pertalian. Katamu Joko. Kataku Bowo. Walaupun Joko menang, hutangmu tetap tumpuk. Ataupun Bowo menang, kau harus kembali ke ladang. Mak Romlah, tetangga sebelah kita, tetap juga sakit-sakitan. Semoga ketika tungku ini mendingin. Kita bisa memulainya lagi, ya?…
-

Uri
Uri bicaranya seperti kumur-kumur, daya ingatnya lemah, wajahnya cekung, dan ucapannya selalu menggelitik. Wajar saja banyak orang mencemoohnya, si Uri yang berumur dua puluh delapan tahun asli Mampang. Di samping semua kelemahan nya, ada hal-hal yang membuat semua orang kagum, seperti, [AdSense-A] Uri itu sayang Ibunya. Ketika ibunya terbaring di rumah sakit dan tidak ada…
-

Tejo Prapto
“Tejo Tejo.. Mana ada orang rendah hati yang menyebut dirinya sendiri jujur, merakyat, sederhana. Mana ada orang jujur yang mengingkari ucapannya sendiri. Tejo … Tejo ,” suara rendah Ibu Suci, ketua arisan warga yang sedang menghitung uang arisan, “Tapi tetep kok aku milih kamu. Ya wong kamu itu ndeso. Orang ndeso kan prihatin. Orang prihatin mengerti orang prihatin. Kamu kan kurus-kering. Orang kurus kan gak serakah.…
