Membangun ekosistem digital di sektor perikanan itu ternyata nggak semudah membalikkan telapak tangan atau sekadar bikin aplikasi keren terus selesai. Hari ini, 4 Juni 2025, saya berkesempatan ngobrol mendalam dengan tim dari Direktorat Teknologi Baru, Komdigi (sebelumnya Kominfo), soal peran mereka dalam transformasi digital sektor perikanan. Diskusi ini membuka mata saya bahwa tantangan sesungguhnya bukan lagi soal “teknologi apa yang mau dipakai”, tapi gimana teknologi itu bisa survive di tengah realita lapangan yang menantang.
Landasan program mereka sebenarnya cukup kuat, mengacu pada Perpres 18/2020, dan saat ini mereka sedang menyusun rencana strategis untuk 2025-2029. Sejak 2020, Komdigi sudah memetakan sektor-sektor yang butuh sentuhan IoT, termasuk perikanan, pertanian, dan kesehatan. Menariknya, Komdigi nggak jalan sendiri; mereka memposisikan diri sebagai pendukung bagi KKP sebagai leading sector. Fokusnya adalah melakukan pembinaan kepada mitra yang sudah mulai masuk ke skala digital, mempertemukan mereka dengan investor lewat program seperti Hub.id, hingga aplikasi langsung ke lapangan.
Ada satu success story yang menarik dari Sleman, di mana digitalisasi berhasil meningkatkan produktivitas sebesar 20-30%. Misalnya, penggunaan kincir digital yang bisa menghemat listrik, atau autofeeder yang meningkatkan efisiensi pakan hingga 20%. Tapi, sebagai peneliti, saya harus kritis: meskipun produktivitas naik, outcome untuk pendapatan petani secara riil masih sulit diukur secara presisi. Ini mengingatkan saya pada diskusi sebelumnya mengenai realita AI dan Blockchain (11 Juni 2025) yang sempat saya bahas, di mana teknologi seringkali masih terasa “jauh” jika hitung-hitungan ekonominya belum matang bagi pembudidaya kecil.
Masalah klasik yang muncul lagi-lagi soal SDM dan literasi digital. Ternyata, tingkat kemampuan digital itu beda-beda banget. Pembudidaya umumnya lebih melek teknologi dan punya smartphone dibanding nelayan yang beberapa di antaranya bahkan masih buta huruf. Fakta uniknya, bukan cuma usia tua yang kesulitan, sekitar 20% anak muda di komunitas tersebut juga masih kagok pakai teknologi baru. Di sini, peran local hero atau tokoh masyarakat jauh lebih krusial dan dipercaya daripada penyuluh resmi pemerintah.
Terakhir, soal infrastruktur. Kita seringkali terlalu bersemangat bicara soal drone untuk perikanan—yang sebenarnya sudah mulai dijajaki—tapi lupa kalau infrastruktur dasar masih bolong-bolong. Komdigi menekankan bahwa ketersediaan listrik dan sinyal internet adalah syarat mutlak sebelum kita bicara digitalisasi yang lebih jauh. Di luar Jawa, perbedaan kualitas sinyal dan keamanan masih jadi ganjalan besar. Takeaway-nya jelas: jangan cuma jualan “teknologi langit” kalau urusan listrik dan internet di tambak saja belum beres. Kita butuh pendekatan yang lebih membumi agar transformasi ini nggak cuma jadi pajangan.


Leave a Reply